Skip to main content
x

Sejarah Desa Lanosangia

Sejarah Desa

Napak Tilas Sejarah Desa Lanosangia: Dari Lakansai Menuju Kemandirian

Jauh sebelum dikenal dengan nama Lanosangia, wilayah ini merupakan satu kesatuan integral dengan Desa Waode Buri. Pada masa awal pertumbuhannya, wilayah ini menyandang status sebagai Rukun Kampung (RK) dengan identitas historis Rukun Kampung Lakansai. Sebagai sebuah unit administratif kecil di bawah naungan desa induk, Lakansai menjadi rumah bagi sekelompok masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam Kulisusu yang asri.

Seiring bergulirnya waktu, dinamika peradaban di Lakansai menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan. Laju pertumbuhan penduduk yang pesat serta meluasnya pemanfaatan lahan wilayah menjadikannya kian mandiri. Transformasi ini memicu kesadaran kolektif di tengah masyarakat bahwa RK Lakansai telah memenuhi prasyarat objektif untuk berdiri sendiri sebagai sebuah entitas pemerintahan desa yang berdaulat.

Merespons aspirasi tersebut, para tokoh masyarakat dan penduduk RK Lakansai mulai merancang langkah strategis untuk melakukan pemekaran wilayah. Persiapan demi persiapan dilakukan secara matang demi mewujudkan tata kelola desa yang lebih dekat dengan kepentingan masyarakat setempat.

Momentum bersejarah itu akhirnya tiba pada Kamis, 13 Mei 1976. Bertempat di Desa Waode Buri, dilakukanlah upacara peresmian yang menandai lahirnya Desa Lanosangia secara resmi. Peristiwa sakral ini dipimpin langsung oleh Bupati Muna saat itu, Drs. La Ode Kaimuddin, yang mengesahkan transisi Lakansai menjadi desa mandiri.

Guna menakhodai desa yang baru lahir ini, struktur pemerintahan perdana dibentuk dengan komposisi tokoh-tokoh pilihan:

  • Kepala Desa Pertama: Serka Muhammad Akil Bacco.
  • Wakil Desa: La Ode Usman.
  • Sekretaris Desa: La Ode Zainuddin.

Pada awal pembentukannya, Desa Lanosangia secara administratif dibagi menjadi dua wilayah dusun yang dipimpin oleh kader-kader terbaik masyarakat, yaitu:

  1. Dusun Pebaoa, yang diamanahkan kepada Bapak Jamal sebagai Kepala Dusun.
  2. Dusun Kurolabu, yang diamanahkan kepada Bapak La Bita sebagai Kepala Dusun.

Tonggak sejarah tahun 1976 tersebut bukan sekadar perubahan administrasi, melainkan janji kemajuan bagi seluruh masyarakat Desa Lanosangia. Sebagai catatan tambahan, proses demokrasi langsung pertama kali dilaksanakan oleh masyarakat desa melalui pemilihan umum pertama pada tahun 1983.